Pengalaman membuat SIM C di Polres Bogor
sebelum nya saya sempat kebingungan dan tidak tau apa-apa tentang syarat tata cara membuat sim c trus saya menemukan blog ini dan supaya menambah informasi /share saya tulis lagi,Alhamdulillah, pada tanggal 14
Desember 2012 saya akhirnya resmi mendapatkan lisensi mengemudi a.k.a. SIM
pertama saya. Yap, pada tanggal tersebut saya berhasil memperoleh SIM C Kabupaten Bogor. Dan SIM tersebut saya
peroleh dengan cara yang sesuai dengan prosedur yang diterapkan oleh
kepolisian. Jadi, ga pake calo dong. J
Well, di sini saya akan membahas
pengalaman saya memperoleh SIM C tersebut kepada netizen sekalian khususnya yang
berdomisili di wilayah Kabupaten Bogor. Semoga sharing saya ini bisa bermanfaat
banyak bagi Anda yang juga punya keinginan untuk membuat SIM C.
Polres Bogor melayani pembuatan
SIM baik SIM C, D, A, B I, dan B II pada hari Senin sampai Sabtu. Pada hari
Senin sampai Kamis, pendaftaran untuk membuat SIM baru adalah pada pukul 08.00
– 11.00 sedangkan pada hari Jumat dan Sabtu pendaftaran dimulai pukul 08.00
sampai pukul 10.00 saja. Waktu pendaftaran pembuatan SIM baru ini berbeda
dengan waktu pendaftaran perpanjangan SIM. Untuk perpanjangan, masing-masing
waktu ditambah satu jam lagi, sampai pukul 12.00 di hari Senin-Kamis dan sampai
pukul 11.00 di hari Jumat dan Sabtu. Jadi buat Anda yang ingin mengurus SIM
baru, harus lebih pagi ya dipersiapkannnya dan jangan sampa keliru membaca
jadwalnya. J
Oke, sekarang kita masuk pada
kronologis pembuatan SIM C di Polres Bogor. Untuk dapat membuat SIM C, yang
harus Anda siapkan secara umum adalah foto copy KTP dan surat keterangan sehat
dari dokter. Surat keterangan sehat bisaAnda peroleh dari dokter mana saja.
Tidak harus dokter yang berada di Polres Bogor. Sebagai informasi, dokter yang
melayani pembuatan surat keterangan sehat di Polres Bogor pun sebenarnya
bukanlah dokter di Polres tersebut. Tempat praktiknya pun berada di luar
wilayah Mapolres Bogor. Hanya saja memang lokasi prakteknya sangat dekat dengan
mapolres (tepatnya di belakang mapolres) dan juga ada jalan beserta petunjuk
arahnya yang disediakan oleh pihak Polres Bogor untuk menuju tempat praktik
dokter tersebut. Mungkin sudah ada kerja sama antara dokter yang membuka
praktik di sana dengan pihak Polres Bogor karena saya sangat yakin, pelanggan
klinik tersebut hanyalah mereka yang ingin membuat SIM. Saya juga sempat heran
karena pada saat saya membuat surat keterangan sehat di klinik tersebut, saya
tidak menjumpai dokter yang berpraktik di sana. Saya hanya dilayani oleh
seorang siswi SMA yang sedang PKL dan juga seorang wanita yang mungkin adalah
asisten dokternya. Tetapi kemudian rasa heran saya itu hilang mengingat pemeriksaan
kesehatan yang dilakukan adalah pemeriksaan yang tidak perlu memerlukan
keahlian seorang yang harus menempuh perkuliahan selama 8 semester plus
beberapa tahun lagi tambahannya sehingga mendapatkan gelar “dokter”. Saya hanya
diperiksa tinggi dan berat badan, tekanan darah, tes buta warna, dan karena
saya memakai kacamata, maka saya juga ditanya tentang kondisi mata saya yang
minus setengah ini, hehe. Ya, hanya ditanya dan tidak diperiksa. Biaya
pembuatan surat keterangan sehat ini adalah Rp20.000,- . Tentu saja jika kita membuat surat keterangan sehat
bukan dari dokter di dekat mapolres tersebut, biaya yang dikeluarkan mungkin
akan berbeda. Bisa lebih murah atau justru lebih mahal. Mungkin, jika surat
keterangan sehat kita buat di puskesmas, biayanya akan jadi lebih murah. Mungkin
ya, saya juga ga tahu pasti berapa tarif di puskesmas soalnya, hehe. :D
Oh iya, di sana yang kita lakukan adalah menunggu
dengan mengambil nomor antrean yang sudah disedikan. Bisa dibilang cukup mirip
dengan yang biasa kita lakukan jika pergi ke bank. Dan saat pemeriksaan
dilakukan, saya dimintai foto copy KTP untuk menyalin nama saya dan kemudian
dijadikan lampiran pada surat keterangan sehat. Jadi, pastikan Anda sudah
memfoto copy KTP Anda sebelum membuat surat keterangan sehat.
Setelah surat keterangan sehat
selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah mendaftar di loket yang sudah
disediakan (bukan di calo yang sudah berkeliaran ya, hehe). Pendaftaran
dilakukan dengan mengambil map yang sudah disediakan pihak polres di loket tempat
mendaftar lalu mengisinya dengan surat keterangan sehat yang sudah dibuat.
Bagian depan map tersebut dituliskan identitas kita seperti contoh yang sudah
disediakan oleh petugas di loket pendaftaran. Setelah selesai mendaftar, saya
dipersilakan untuk menunggu oleh petugas di tempat ujian praktik yang berada
persis di sebelah loket.
Sebelum ujian praktik dimulai,
ada seorang petugas yang memberikan pengarahan kepada para peserta ujian
tentang apa saja yang akan diujikan di ujian praktik ini. Selain itu, petugas
tersebut juga memberikan semacam motivasi kepada para peserta ujian agar mampu
menghadapi ujian dengan baik. Satu pesan yang paling saya ingat sekaligus yang
paling saya sukai dari petugas tersebut adalah tentang cara berkendara, Petugas
tersebut berpesan bahwa tujuan orang membuat SIM bukan hanya agar ketika ada
razia di jalan, ia dapat lolos dari hukuman. Tetapi lebih kepada perubahan
sikap dan cara dalam berkendara. SIM menurutnya adalah sebuah pertanda bagi
seseorang yang mampu mengendarai kendaraan bermotor dengan baik untuk
membedakannya dengan seseorang yang belum mempunyai kemampuan berkendara yang
baik. Ia juga berpesan kepada peserta bahwa seharusnya ada sebuah perubahan
besar dalam sikap dan cara berkendara seseorang sebelum dan setelah memiliki
SIM. Dengan dimilikinya SIM, rasa tanggung jawab, mengutamakan keselamatan
orang banyak, dan kehati-hatian berkendara harus mutlak dimiliki pengendara
agar ketrtiban di jalan raya dapat terwujud sehingga jumlah kecelakaan lalu
lintas dapat ditekan hingga ke titik nadir.
Tak lama berselang,saya pun
dipanggil dan dipersilakan untuk mengikuti ujian praktik. Oh iya, ujian SIM C
sendiri di Polres Bogor ada 2 macam, ujian praktik dan ujian teori. Di tempat
lain mungkin saja ada satu tambahan ujian lagi yaitu ujian simulasi dengan
menggunakan simulator yang kita ketahui bersama sedang menjadi perbincangan
hangat belakangan ini karena pengadaan simulator ini menurut KPK dikorupsi oleh
pihak yang tidak bertanggung jawab yang juga menyeret nama seorang jenderal
polisi menjadi tersangkanya. tetapi ujian simulator ini tidak dilakukan di
Polres Bogor. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya. Ujian praktik di Polres
Bogor terdiri dari 3 lintasan, yaitu 1) lintasan U, 2) lintasan Y, 3) lintasan 8 yang harus kita
lalui tanpa menjatuhkan kaki kita ke jalan dan/atau menjatuhkan pembatas
lintasan. Jika kita menjatuhkan kaki kita atau menjatuhkan pembatas lintasan,
kita diberikan 3 kali kesempatan untuk mengulang dari awal pada masing-masing
lintasan. Lintasan U menguji kita untuk melakukan putar balik ke arah kanan.
Lintasan Y menguji kita untuk melakukan jalan lurus di atas 20 km/jam kemudian
di titik tertentu kita diharuskan untuk melakukan pengereman mendadak kemudian
mengalihkan setir motor kita ke arah kanan atau kiri, jika digambarkan memang
lintasannya berbentuk seperti huruf Y. Bagi saya, lintasan Y ini adalah
lintasan yang paling mudah untuk dilalui mengingat berjalan lurus kemudian
mengerem mendadak adalah hal yang sudah sangat biasa kita lakukan di jalanan.
Sementara itu, intasan 8 menguji kita untuk melakukan gerakan berbentuk huruf S
dan S terbalik (sehingga membentuk angka 8) dalam satu kesatuan gerakan.
Lintasan 8 ini menurut saya adalah yang paling sulit untuk dilalui mengingat
banyaknya tikungan sempit yang harus dilalui oleh peserta.
Pada ujian praktik ini, peserta
diuji dengan menggunakan 3 buah motor milik polres, yaitu Suzuki Thunder, Honda
Absolute Revo, dan Yamaha Mio. Motor Thunder diperuntukkan bagi peserta
laki-laki sedangkan motor Honda Absolute Revo dan Yamaha Mio diperuntukkan bagi
peserta wanita. Akan tetapi bukan berarti peserta laki-laki tidak boleh menggunakan Revo atau Mio.
Peserta laki-laki juga diperbolehkan menggunakan Revo atau Mio tetapi sekali
saja kaki kita menginjak jalan pada saat ujian praktik berlangsung, kita akan
langsung dinyatakan gagal karena konsekuensi menggunakan keduanya adalah
peserta laki-laki tidak diberikan kesempatan mengulang jika kaki menginjak
jalan. Oh iya, saya diceritakan kakak ipar saya ketika ia membuat SIM di DKI
Jakarta, ia (dan peserta ujian lainnya) diperbolehkan melaksanakan ujian
praktik dengan menggunakan sepeda motor miliknya sendiri. Berbeda halnya dengan
yang terjadi di Polres Bogor yang menggunakan sepeda motor milik polisi. Jadi,
ketentuan ini mungkin berbeda di tiap polres di daerah lain.
Saya sendiri memilih untuk
menggunakan motor Honda Absolute Revo karena motor saya juga itu. Jadi saya
berasumsi saya sudah sangat terbiasa menggunakan Absolute Revo sehingga itu
akan memudahkan saya dalam mengendarai motor milik polisi. Saya pun melaju di
lintasan U dan saya berhasil melalui putaran balik tetapi sayang seribu sayang,
saya menyenggol pembatas lintasan. Padahal sebelum mulai ujian saya begitu
yakin dapat berhasil. Tetapi mungkin karena ada faktor gugup yang menghinggapi diri
saya, saya pun pada akhirnya menyenggol pembatas lintasan itu. Maklum, saat
kita sedang ujian, peserta ujian lain menonton kita. Tidak heran jika kemudian
timbul rasa gugup. Maka, saya pun langsung dinyatakan gagal oleh petugas. Saya
lalu diberikan semacam surat keterangan gagal dan baru diperbolehkan mengikuti
ujian kembali 7 hari kemudian. Saya pun berpikir, bagaimana caranya agar saya
bisa dengan mulus melalui lintasan-lintasan ujian praktik. Saya sadar,
satu-satunya cara agar bisa mulus melalui lintasan-lintasan tersebut adalah
dengan berlatih. Saya kemudian terdorong untuk bertanya kepada salah seorang
petugas polisi yang ada di sana, apakah tempat ujian praktik di sana dapat saya
gunakan untuk berlatih? Alhamdulillah, ternyata memang dibolehkan untuk
berlatih di sana pada saat tidak ada aktivitas ujian praktik yang dilakukan
polres. Jadi, bisa di pagi hari sebelum jam masuk kerja atau pada sore hari
setelah jam pulang kerja. Untuk hari Minggu, kita dapat menggunakannya kapan
saja selama pintu gerbang mapolres tidak dikunci rapat karena pada hari itu
tentu saja para polisi sedang libur kerja. Senang sekali rasanya saya mendengar
jawaban itu. Saya pun lalu segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, saya menyusun jadwal latihan yang akan saya lakukan.
Semula saya berencana tiap sore dan di pagi hari khusus hari Minggu saya akan
berlatih di sana. Pikir saya, selagi saya punya waktu luang karena sedang libur
kuliah, kenapa tidak dimanfaatkan seoptimal mungkin? Akan tetapi kanyataan
berbicara lain. karena berbagai faktor seperti hujan dan rasa malas, hehe, pada
akhirnya saya hanya berlatih 2 hari sekali. Saya ujian di hari Jumat tanggal 7
Desember 2012. Saya berlatih di sana pada hari Minggu pagi (9/12), Selasa sore
(11/12), dan Kamis sore (13/12). Dari hari ke hari tentu saja saya menargetkan
ada perbaikan berkendara yang diukur dari kelancaran saya melewati lintasan
yang dujikan. Awalnya saya memacu motor dengan pelan sekali, lalu kemudian
sedikit demi sedikit, hari demi hari, saya mempercepat laju motor saya di atas
lintasan sekaligus membuat semacam patokan-patokan yang harus saya lakukan pada
jalur setiap lintasan. Yang saya lakukan selama berlatih itu ternyata sangat
membantu sekali pada saat ujian ulang di hari Jumat (14/12).
Hari Jumat pun akhirnya tiba.
Saya berangkat ke Mapolres Bogor yang berjarak sekitar 21 km dari rumah saya
lebih siang jika dibandingkan minggu lalu. Ini karena pada hari ini saya hanya
akan melakukan ujian ulang, jadi tidak perlu lagi membuat surat keterangan
sehat di dokter. Sesampainya di sana, selain melihat wajah-wajah baru, saya
melihat muka-muka lama yang saya lihat di minggu lalu. Dapat dipastikan bahwa
mereka adalah orang yang bernasib sama dengan saya: ujian ulang! Saya segera
menuju loket pendaftaran dan menyerahkan surat keterangan gagal/ujian ulang
yang saya terima minggu lalu. Petugas loket langsung mempersilakan saya menuju
tempat ujian praktik tanpa perlu lagi mengisi map. Setelah menunggu cukup lama,
saya heran mengapa nama saya tak kunjung dipanggil. Hingga saya sadar bahwa
hanya tinggal beberapa orang saja (seingat saya 3 orang) yang masih menunggu.
Oleh sebab itu, saya pun berinisiatif menghampiri petugas dan meminta saya
untuk diuji ulang. Dan ternyata map pendaftaran saya memang berada di tumpukan
paling bawah. Jadi, wajar saja jika saya tidak kunjung dipanggil, hehe. Saya kemudian
dipersilakan oleh petugas untuk melakukan ujian ulang. Dengan penuh percaya
diri, saya kembali menunggangi Absolute Revo. Kali ini rasa gugup saya lebih
kecil dibandingkan minggu lalu. Ini tentu saja juga merupakan efek dari latihan
rutin yang saya lakukan sebelum ujian ulang. Oh iya, sebagai catatan, saya
belum genap satu tahun bisa mengendarai sepeda motor. Baru di pertengahan tahun
2012 ini saya bisa dan berani mengendarai sepeda motor. Kalau dihitung-hitung,
mungkin baru sekitar 9 bulan saya bisa mengendarai sepeda motor. Tetapi karena
saya yakin dengan peribahasa “bisa karena biasa”, maka saya pun yakin dengan
diri saya sendiri yang sudah terbiasa berlatih dengan lintasan ujian praktik.
Ditambah lagi, saya juga sudah terbiasa dengan kemacetan ibukota karena saya
sangat sering bolak-balik Bogor-Jakarta. Satu lagi, selama 9 bulan mampu
mengendarai sepeda motor, saya juga belum pernah sekalipun kena tilang oleh pak
pulisi. Sebuah catatan baik yang melejitkan kepercayaan diri saya. J
Dan akhirnya….
Saya berhasil melalui 3 lintasan
yang diujikan dengan sangat lancar, sama seperti saat latihan. Kelancaran saya
melalui ketiga lintasan itu juga dipuji oleh polisi yang mengawasi ujian saya.
Polisi tersebut berujar bahwa sepanjang ujian hari ini, sayalah yang paling
mulus membawa sepeda motor di semua lintasan, terutama di lintasan 8. Jika yang
lain melewati lintasan 8 dengan sedikit keluar garis pembatas lintasan yang
ada, saya melakukannya di dalam lintasan tanpa keluar garis pembatas lintasan
sama sekali. Persis jika itu dilakukan oleh polisi yang memberikan contoh
kepada para peserta ujian. Saya pun sangat senang bercampur bangga karena telah
berhasil melewati ujian praktik dengan sangat baik. Percayalah, untuk melewati
lintasan seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah berlatih agar kita menjadi
terbiasa. BISA KARENA BIASA! Saya telah membuktikan hal itu. Walaupun belum
genap satu tahun mampu mengendarai sepeda motor, saya membuktikan bahwa saya
bisa lolos ujian praktik dengan baik. :D
Selanjutnya, saya pun dipersilaan
oleh petugas untuk menunggu di ruang tunggu ujian berikutnya: ujian teori. Oh
iya, di Polres Bogor, ujian praktik didahulukan dari ujian teori. Padahal jika
merujuk pada peraturan yang ada, termasuk papan informasi di dalam Mapolres
Bogor itu sendiri, ujian praktik dilakukan setelah menjalani dan dinyatakan
lulus pada ujian teori. Saya tidak tahu mengapa prosedur ini dibalik di Polres
Bogor. Yang perlu diperhatikan saat menunggu ujian teori adalah di bagian
belakang ruang tunggu ujian teori terdapat spanduk besar yang berisi berbagai
macam peraturan lalu lintas seperti rambu, marka, isyarat polisi, dan
lain-lain. Selagi menunggu ujian, saya belajar dan mengulang hapalan dan pengetahuan
seputar peraturan lalu lintas dar spanduk besar tersebut. Dan Alhamdulillah,
hasil belajar sebelum ujian itu terasa besar sekali manfaatnya pada saat saya
mengikuti ujian teori. Yah, maklum, dari dulu saya ini memang terbiasa dengan
pola belajar SKS (Sistem Kebut Sesaat), hehe. Banyak soal keluar yang
berhubungan dengan isi spanduk besar itu.
Singkat cerita, ujian teori pun
dimulai. Soal ujian teori ini berjumlah 30 soal dengan total waktu 30 menit
atau satu soal satu menit. Soal berjenis pilihan ganda dengan opsi A, B, atau
C. ujian teori ini dilakukan secara elektronik. Jadi, setelah membaca dan
memahami soal yang tertera di layar, kita hanya perlu menekan salah satu tombol
yang sudah disediakan di meja tempat ujian kita. Persis seperti jika kita
mengikuti perlombaan LCT atau cerdas cermat. Soal-soal yang diujikan adalah
seputar peraturan lalu lintas tiap SIM. Jika kita membuat SIM C, soal yang
diujikan adalah yang berkaitan dengan SIM C dan sepeda motor. Begitu pun jika
kita membuat SIM A, soal yang dijikan adalah yang berhubungan dengan SIM A, dan
seterusnya untuk SIM yang lain. Nilai minimum untuk lulus ujian teori adalah 60
atau setara dengan menjawab 18 pertanyaan secara benar. Jika jawaban benar
kurang dari 18, kita dinyatakan gagal ujian teori dan diberi kesempatan untuk
mengulang di lain waktu yang ditentukan. Alhamdulillah, pada saat ujian teori,
saya mampu menjawab 22 pertanyaan dengan benar atau setara dengan nilai 74.
Nilai saya merupakan yang tertinggi ketiga (pertama 80, kedua 77) dari 30 orang
yang mengikuti ujian bersama. Dari 30 orang itu sepengetahuan saya hanya
sekitar 13 orang yang berhasil melampaui nilai 30 sedangkan 17 orang lainnya
harus mengulang. Keberhasilan saya menjawab soal-soal ujian teori adalah karean
saya sudah mempersiapkan diri saya dengan baik sebelum melakukan ujian ini.
mulai dari belajar dari spanduk yang ada di bagian belakang ruang tunggu ujian
teori hingga tentu saja mempelajari soal-soal ujian teori yang saya dapat dari
internet. Saya sangat merekomendasikan situs http://indonesia-policewatch.com/adil/sim.php?action=simc bagi anda yang ingin
mempelajari soal ujian teori pembuatan SIM C. Selain itu, Anda juga dapat
mengunduh kumpulan soal ujian teori SIM yang ada di sini. Dua rujukan tersebut
saya pikir sudah lebih dari cukup untuk Anda pelajari jika ingin berhasil
melalui ujian teori dengan baik.
Setelah dinyatakan lulus, tahap
selanjutnya adalah mengisi formulir permohonan SIM. sudah ada contoh yang
diberikan untuk mengisi formulir tersebut sehingga mempermudah saya untuk
mengisinya. Setelah terisi, formulir tersebut dikumpulkan di loket yang sudah
disediakan. Kemudian saya diminta oleh petugas menuju loket Bank BRI untuk
membayar biaya pembuatan alias PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) SIM C
sebesar Rp100.000,- . Setelah
membayar, saya dan peserta ujian yang lulus lainnya menuju ke ruang pemotretan
untuk diambil pas foto, sidik jari, dan tanda tangan. Setelah selesai, saya
menunggu sejenak proses pencetakan SIM C. Setelah SIM C selesai dicetak nama
saya dipanggil untuk mengambil SIM C tesebut. Sayang seribu sayang, saat saya
mengambil SIM C milik saya, terdapat biaya tambahan sebesar Rp30.000,- untuk biaya asuransi. Saya
tahu, biaya asuransi ini tidak seharusnya ada. Saya sempat menanyakan kepada
petugas yang meminta asuransi tersebut untuk apa asuransi ini. Tetapi dengan
perangai yang bisa dikatakan sedikit memaksa, ia menjelaskan bahwa asuransi ini
sebagai jaminan jika kita mengalami kecelakaan lalu lintas. Saya pun dengan
sangat terpaksa mengikhlaskan uang Rp30.000 itu melayang. Saya sarankan bagi
Anda yang akan membuat SIM C, sebisa mungkin jangan membayar biaya asuransi
sebesarRp30.000 itu. Kemukakan saja segala macam alasan yang membuat kita bisa
terhindar untuk membayar. Mungkin dengan mengatakan kepada petugas, “Wah, uang
saya sudah habis, pak. Ini cuma sisa Rp10.000 di dompet. Itu pun juga buat beli
bensin.” Anda bisa terhindar dari biaya tambahan yang tidak resmi itu. Ini
penting mengingat saat ini kepolisian Republik Indonesia sedang mendapat
sorotan tajam akan kasus korupsi simulator SIM yang sudah saya singgung sedikit
di atas. Setelah jenderal mereka dinyatakan sebagai tersangka, seharusnya
bersih-bersih Polri harus dilakukan dengan segera dan komprehensif termasuk
membersihkan biaya gelap pembuatan SIM tadi. Jika kita tidak membayar uang
tambahan tadi, itu sama saja kita membantu proses bersih-bersih yang dilakukan
oleh Polri. Saya sebenarnya sudah cukup salut dengan kemajuan Polri belakangan
ini dalam menghilangkan citra buruknya sebagai salah satu ‘lahan basah’. Ini tercermin
dari proses pembuatan SIM yang walaupun belum 100% baik dan bersih, tetapi
sudah bisa dikatakan lebih baik dan lebih bersih dibandingkan masa yang lalu. Jayalah
selalu Kepolisian Republik Indonesia! J
Demikian pengalaman saya dalam
membuat SIM C di Polres Bogor. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para
netizen yang juga ingin membuat SIM C, khususnya bagi para waga Kabupaten Bogor.
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar