Senin, 29 Februari 2016

Pengalaman membuat SIM C di Polres Bogor

sebelum nya saya sempat kebingungan dan tidak tau apa-apa tentang syarat tata cara membuat sim c trus saya menemukan blog ini dan supaya menambah informasi /share saya tulis lagi,Alhamdulillah, pada tanggal 14 Desember 2012 saya akhirnya resmi mendapatkan lisensi mengemudi a.k.a. SIM pertama saya. Yap, pada tanggal tersebut saya berhasil memperoleh SIM C  Kabupaten Bogor. Dan SIM tersebut saya peroleh dengan cara yang sesuai dengan prosedur yang diterapkan oleh kepolisian. Jadi, ga pake calo dong. J
Well, di sini saya akan membahas pengalaman saya memperoleh SIM C tersebut kepada netizen sekalian khususnya yang berdomisili di wilayah Kabupaten Bogor. Semoga sharing saya ini bisa bermanfaat banyak bagi Anda yang juga punya keinginan untuk membuat SIM C.
Polres Bogor melayani pembuatan SIM baik SIM C, D, A, B I, dan B II pada hari Senin sampai Sabtu. Pada hari Senin sampai Kamis, pendaftaran untuk membuat SIM baru adalah pada pukul 08.00 – 11.00 sedangkan pada hari Jumat dan Sabtu pendaftaran dimulai pukul 08.00 sampai pukul 10.00 saja. Waktu pendaftaran pembuatan SIM baru ini berbeda dengan waktu pendaftaran perpanjangan SIM. Untuk perpanjangan, masing-masing waktu ditambah satu jam lagi, sampai pukul 12.00 di hari Senin-Kamis dan sampai pukul 11.00 di hari Jumat dan Sabtu. Jadi buat Anda yang ingin mengurus SIM baru, harus lebih pagi ya dipersiapkannnya dan jangan sampa keliru membaca jadwalnya. J
Oke, sekarang kita masuk pada kronologis pembuatan SIM C di Polres Bogor. Untuk dapat membuat SIM C, yang harus Anda siapkan secara umum adalah foto copy KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Surat keterangan sehat bisaAnda peroleh dari dokter mana saja. Tidak harus dokter yang berada di Polres Bogor. Sebagai informasi, dokter yang melayani pembuatan surat keterangan sehat di Polres Bogor pun sebenarnya bukanlah dokter di Polres tersebut. Tempat praktiknya pun berada di luar wilayah Mapolres Bogor. Hanya saja memang lokasi prakteknya sangat dekat dengan mapolres (tepatnya di belakang mapolres) dan juga ada jalan beserta petunjuk arahnya yang disediakan oleh pihak Polres Bogor untuk menuju tempat praktik dokter tersebut. Mungkin sudah ada kerja sama antara dokter yang membuka praktik di sana dengan pihak Polres Bogor karena saya sangat yakin, pelanggan klinik tersebut hanyalah mereka yang ingin membuat SIM. Saya juga sempat heran karena pada saat saya membuat surat keterangan sehat di klinik tersebut, saya tidak menjumpai dokter yang berpraktik di sana. Saya hanya dilayani oleh seorang siswi SMA yang sedang PKL dan juga seorang wanita yang mungkin adalah asisten dokternya. Tetapi kemudian rasa heran saya itu hilang mengingat pemeriksaan kesehatan yang dilakukan adalah pemeriksaan yang tidak perlu memerlukan keahlian seorang yang harus menempuh perkuliahan selama 8 semester plus beberapa tahun lagi tambahannya sehingga mendapatkan gelar “dokter”. Saya hanya diperiksa tinggi dan berat badan, tekanan darah, tes buta warna, dan karena saya memakai kacamata, maka saya juga ditanya tentang kondisi mata saya yang minus setengah ini, hehe. Ya, hanya ditanya dan tidak diperiksa. Biaya pembuatan surat keterangan sehat ini adalah Rp20.000,- . Tentu saja jika kita membuat surat keterangan sehat bukan dari dokter di dekat mapolres tersebut, biaya yang dikeluarkan mungkin akan berbeda. Bisa lebih murah atau justru lebih mahal. Mungkin, jika surat keterangan sehat kita buat di puskesmas, biayanya akan jadi lebih murah. Mungkin ya, saya juga ga tahu pasti berapa tarif di puskesmas soalnya, hehe. :D
Oh  iya, di sana yang kita lakukan adalah menunggu dengan mengambil nomor antrean yang sudah disedikan. Bisa dibilang cukup mirip dengan yang biasa kita lakukan jika pergi ke bank. Dan saat pemeriksaan dilakukan, saya dimintai foto copy KTP untuk menyalin nama saya dan kemudian dijadikan lampiran pada surat keterangan sehat. Jadi, pastikan Anda sudah memfoto copy KTP Anda sebelum membuat surat keterangan sehat.
Setelah surat keterangan sehat selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah mendaftar di loket yang sudah disediakan (bukan di calo yang sudah berkeliaran ya, hehe). Pendaftaran dilakukan dengan mengambil map yang sudah disediakan pihak polres di loket tempat mendaftar lalu mengisinya dengan surat keterangan sehat yang sudah dibuat. Bagian depan map tersebut dituliskan identitas kita seperti contoh yang sudah disediakan oleh petugas di loket pendaftaran. Setelah selesai mendaftar, saya dipersilakan untuk menunggu oleh petugas di tempat ujian praktik yang berada persis di sebelah loket.
Sebelum ujian praktik dimulai, ada seorang petugas yang memberikan pengarahan kepada para peserta ujian tentang apa saja yang akan diujikan di ujian praktik ini. Selain itu, petugas tersebut juga memberikan semacam motivasi kepada para peserta ujian agar mampu menghadapi ujian dengan baik. Satu pesan yang paling saya ingat sekaligus yang paling saya sukai dari petugas tersebut adalah tentang cara berkendara, Petugas tersebut berpesan bahwa tujuan orang membuat SIM bukan hanya agar ketika ada razia di jalan, ia dapat lolos dari hukuman. Tetapi lebih kepada perubahan sikap dan cara dalam berkendara. SIM menurutnya adalah sebuah pertanda bagi seseorang yang mampu mengendarai kendaraan bermotor dengan baik untuk membedakannya dengan seseorang yang belum mempunyai kemampuan berkendara yang baik. Ia juga berpesan kepada peserta bahwa seharusnya ada sebuah perubahan besar dalam sikap dan cara berkendara seseorang sebelum dan setelah memiliki SIM. Dengan dimilikinya SIM, rasa tanggung jawab, mengutamakan keselamatan orang banyak, dan kehati-hatian berkendara harus mutlak dimiliki pengendara agar ketrtiban di jalan raya dapat terwujud sehingga jumlah kecelakaan lalu lintas dapat ditekan hingga ke titik nadir.
Tak lama berselang,saya pun dipanggil dan dipersilakan untuk mengikuti ujian praktik. Oh iya, ujian SIM C sendiri di Polres Bogor ada 2 macam, ujian praktik dan ujian teori. Di tempat lain mungkin saja ada satu tambahan ujian lagi yaitu ujian simulasi dengan menggunakan simulator yang kita ketahui bersama sedang menjadi perbincangan hangat belakangan ini karena pengadaan simulator ini menurut KPK dikorupsi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang juga menyeret nama seorang jenderal polisi menjadi tersangkanya. tetapi ujian simulator ini tidak dilakukan di Polres Bogor. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya. Ujian praktik di Polres Bogor terdiri dari 3 lintasan, yaitu 1) lintasan U, 2)  lintasan Y, 3) lintasan 8 yang harus kita lalui tanpa menjatuhkan kaki kita ke jalan dan/atau menjatuhkan pembatas lintasan. Jika kita menjatuhkan kaki kita atau menjatuhkan pembatas lintasan, kita diberikan 3 kali kesempatan untuk mengulang dari awal pada masing-masing lintasan. Lintasan U menguji kita untuk melakukan putar balik ke arah kanan. Lintasan Y menguji kita untuk melakukan jalan lurus di atas 20 km/jam kemudian di titik tertentu kita diharuskan untuk melakukan pengereman mendadak kemudian mengalihkan setir motor kita ke arah kanan atau kiri, jika digambarkan memang lintasannya berbentuk seperti huruf Y. Bagi saya, lintasan Y ini adalah lintasan yang paling mudah untuk dilalui mengingat berjalan lurus kemudian mengerem mendadak adalah hal yang sudah sangat biasa kita lakukan di jalanan. Sementara itu, intasan 8 menguji kita untuk melakukan gerakan berbentuk huruf S dan S terbalik (sehingga membentuk angka 8) dalam satu kesatuan gerakan. Lintasan 8 ini menurut saya adalah yang paling sulit untuk dilalui mengingat banyaknya tikungan sempit yang harus dilalui oleh peserta.
Pada ujian praktik ini, peserta diuji dengan menggunakan 3 buah motor milik polres, yaitu Suzuki Thunder, Honda Absolute Revo, dan Yamaha Mio. Motor Thunder diperuntukkan bagi peserta laki-laki sedangkan motor Honda Absolute Revo dan Yamaha Mio diperuntukkan bagi peserta wanita. Akan tetapi bukan berarti peserta laki-laki  tidak boleh menggunakan Revo atau Mio. Peserta laki-laki juga diperbolehkan menggunakan Revo atau Mio tetapi sekali saja kaki kita menginjak jalan pada saat ujian praktik berlangsung, kita akan langsung dinyatakan gagal karena konsekuensi menggunakan keduanya adalah peserta laki-laki tidak diberikan kesempatan mengulang jika kaki menginjak jalan. Oh iya, saya diceritakan kakak ipar saya ketika ia membuat SIM di DKI Jakarta, ia (dan peserta ujian lainnya) diperbolehkan melaksanakan ujian praktik dengan menggunakan sepeda motor miliknya sendiri. Berbeda halnya dengan yang terjadi di Polres Bogor yang menggunakan sepeda motor milik polisi. Jadi, ketentuan ini mungkin berbeda di tiap polres di daerah lain.
Saya sendiri memilih untuk menggunakan motor Honda Absolute Revo karena motor saya juga itu. Jadi saya berasumsi saya sudah sangat terbiasa menggunakan Absolute Revo sehingga itu akan memudahkan saya dalam mengendarai motor milik polisi. Saya pun melaju di lintasan U dan saya berhasil melalui putaran balik tetapi sayang seribu sayang, saya menyenggol pembatas lintasan. Padahal sebelum mulai ujian saya begitu yakin dapat berhasil. Tetapi mungkin karena ada faktor gugup yang menghinggapi diri saya, saya pun pada akhirnya menyenggol pembatas lintasan itu. Maklum, saat kita sedang ujian, peserta ujian lain menonton kita. Tidak heran jika kemudian timbul rasa gugup. Maka, saya pun langsung dinyatakan gagal oleh petugas. Saya lalu diberikan semacam surat keterangan gagal dan baru diperbolehkan mengikuti ujian kembali 7 hari kemudian. Saya pun berpikir, bagaimana caranya agar saya bisa dengan mulus melalui lintasan-lintasan ujian praktik. Saya sadar, satu-satunya cara agar bisa mulus melalui lintasan-lintasan tersebut adalah dengan berlatih. Saya kemudian terdorong untuk bertanya kepada salah seorang petugas polisi yang ada di sana, apakah tempat ujian praktik di sana dapat saya gunakan untuk berlatih? Alhamdulillah, ternyata memang dibolehkan untuk berlatih di sana pada saat tidak ada aktivitas ujian praktik yang dilakukan polres. Jadi, bisa di pagi hari sebelum jam masuk kerja atau pada sore hari setelah jam pulang kerja. Untuk hari Minggu, kita dapat menggunakannya kapan saja selama pintu gerbang mapolres tidak dikunci rapat karena pada hari itu tentu saja para polisi sedang libur kerja. Senang sekali rasanya saya mendengar jawaban itu. Saya pun lalu segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, saya  menyusun jadwal latihan yang akan saya lakukan. Semula saya berencana tiap sore dan di pagi hari khusus hari Minggu saya akan berlatih di sana. Pikir saya, selagi saya punya waktu luang karena sedang libur kuliah, kenapa tidak dimanfaatkan seoptimal mungkin? Akan tetapi kanyataan berbicara lain. karena berbagai faktor seperti hujan dan rasa malas, hehe, pada akhirnya saya hanya berlatih 2 hari sekali. Saya ujian di hari Jumat tanggal 7 Desember 2012. Saya berlatih di sana pada hari Minggu pagi (9/12), Selasa sore (11/12), dan Kamis sore (13/12). Dari hari ke hari tentu saja saya menargetkan ada perbaikan berkendara yang diukur dari kelancaran saya melewati lintasan yang dujikan. Awalnya saya memacu motor dengan pelan sekali, lalu kemudian sedikit demi sedikit, hari demi hari, saya mempercepat laju motor saya di atas lintasan sekaligus membuat semacam patokan-patokan yang harus saya lakukan pada jalur setiap lintasan. Yang saya lakukan selama berlatih itu ternyata sangat membantu sekali pada saat ujian ulang di hari Jumat (14/12).
Hari Jumat pun akhirnya tiba. Saya berangkat ke Mapolres Bogor yang berjarak sekitar 21 km dari rumah saya lebih siang jika dibandingkan minggu lalu. Ini karena pada hari ini saya hanya akan melakukan ujian ulang, jadi tidak perlu lagi membuat surat keterangan sehat di dokter. Sesampainya di sana, selain melihat wajah-wajah baru, saya melihat muka-muka lama yang saya lihat di minggu lalu. Dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang yang bernasib sama dengan saya: ujian ulang! Saya segera menuju loket pendaftaran dan menyerahkan surat keterangan gagal/ujian ulang yang saya terima minggu lalu. Petugas loket langsung mempersilakan saya menuju tempat ujian praktik tanpa perlu lagi mengisi map. Setelah menunggu cukup lama, saya heran mengapa nama saya tak kunjung dipanggil. Hingga saya sadar bahwa hanya tinggal beberapa orang saja (seingat saya 3 orang) yang masih menunggu. Oleh sebab itu, saya pun berinisiatif menghampiri petugas dan meminta saya untuk diuji ulang. Dan ternyata map pendaftaran saya memang berada di tumpukan paling bawah. Jadi, wajar saja jika saya tidak kunjung dipanggil, hehe. Saya kemudian dipersilakan oleh petugas untuk melakukan ujian ulang. Dengan penuh percaya diri, saya kembali menunggangi Absolute Revo. Kali ini rasa gugup saya lebih kecil dibandingkan minggu lalu. Ini tentu saja juga merupakan efek dari latihan rutin yang saya lakukan sebelum ujian ulang. Oh iya, sebagai catatan, saya belum genap satu tahun bisa mengendarai sepeda motor. Baru di pertengahan tahun 2012 ini saya bisa dan berani mengendarai sepeda motor. Kalau dihitung-hitung, mungkin baru sekitar 9 bulan saya bisa mengendarai sepeda motor. Tetapi karena saya yakin dengan peribahasa “bisa karena biasa”, maka saya pun yakin dengan diri saya sendiri yang sudah terbiasa berlatih dengan lintasan ujian praktik. Ditambah lagi, saya juga sudah terbiasa dengan kemacetan ibukota karena saya sangat sering bolak-balik Bogor-Jakarta. Satu lagi, selama 9 bulan mampu mengendarai sepeda motor, saya juga belum pernah sekalipun kena tilang oleh pak pulisi. Sebuah catatan baik yang melejitkan kepercayaan diri saya. J
Dan akhirnya….
Saya berhasil melalui 3 lintasan yang diujikan dengan sangat lancar, sama seperti saat latihan. Kelancaran saya melalui ketiga lintasan itu juga dipuji oleh polisi yang mengawasi ujian saya. Polisi tersebut berujar bahwa sepanjang ujian hari ini, sayalah yang paling mulus membawa sepeda motor di semua lintasan, terutama di lintasan 8. Jika yang lain melewati lintasan 8 dengan sedikit keluar garis pembatas lintasan yang ada, saya melakukannya di dalam lintasan tanpa keluar garis pembatas lintasan sama sekali. Persis jika itu dilakukan oleh polisi yang memberikan contoh kepada para peserta ujian. Saya pun sangat senang bercampur bangga karena telah berhasil melewati ujian praktik dengan sangat baik. Percayalah, untuk melewati lintasan seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah berlatih agar kita menjadi terbiasa. BISA KARENA BIASA! Saya telah membuktikan hal itu. Walaupun belum genap satu tahun mampu mengendarai sepeda motor, saya membuktikan bahwa saya bisa lolos ujian praktik dengan baik. :D
Selanjutnya, saya pun dipersilaan oleh petugas untuk menunggu di ruang tunggu ujian berikutnya: ujian teori. Oh iya, di Polres Bogor, ujian praktik didahulukan dari ujian teori. Padahal jika merujuk pada peraturan yang ada, termasuk papan informasi di dalam Mapolres Bogor itu sendiri, ujian praktik dilakukan setelah menjalani dan dinyatakan lulus pada ujian teori. Saya tidak tahu mengapa prosedur ini dibalik di Polres Bogor. Yang perlu diperhatikan saat menunggu ujian teori adalah di bagian belakang ruang tunggu ujian teori terdapat spanduk besar yang berisi berbagai macam peraturan lalu lintas seperti rambu, marka, isyarat polisi, dan lain-lain. Selagi menunggu ujian, saya belajar dan mengulang hapalan dan pengetahuan seputar peraturan lalu lintas dar spanduk besar tersebut. Dan Alhamdulillah, hasil belajar sebelum ujian itu terasa besar sekali manfaatnya pada saat saya mengikuti ujian teori. Yah, maklum, dari dulu saya ini memang terbiasa dengan pola belajar SKS (Sistem Kebut Sesaat), hehe. Banyak soal keluar yang berhubungan dengan isi spanduk besar itu.
Singkat cerita, ujian teori pun dimulai. Soal ujian teori ini berjumlah 30 soal dengan total waktu 30 menit atau satu soal satu menit. Soal berjenis pilihan ganda dengan opsi A, B, atau C. ujian teori ini dilakukan secara elektronik. Jadi, setelah membaca dan memahami soal yang tertera di layar, kita hanya perlu menekan salah satu tombol yang sudah disediakan di meja tempat ujian kita. Persis seperti jika kita mengikuti perlombaan LCT atau cerdas cermat. Soal-soal yang diujikan adalah seputar peraturan lalu lintas tiap SIM. Jika kita membuat SIM C, soal yang diujikan adalah yang berkaitan dengan SIM C dan sepeda motor. Begitu pun jika kita membuat SIM A, soal yang dijikan adalah yang berhubungan dengan SIM A, dan seterusnya untuk SIM yang lain. Nilai minimum untuk lulus ujian teori adalah 60 atau setara dengan menjawab 18 pertanyaan secara benar. Jika jawaban benar kurang dari 18, kita dinyatakan gagal ujian teori dan diberi kesempatan untuk mengulang di lain waktu yang ditentukan. Alhamdulillah, pada saat ujian teori, saya mampu menjawab 22 pertanyaan dengan benar atau setara dengan nilai 74. Nilai saya merupakan yang tertinggi ketiga (pertama 80, kedua 77) dari 30 orang yang mengikuti ujian bersama. Dari 30 orang itu sepengetahuan saya hanya sekitar 13 orang yang berhasil melampaui nilai 30 sedangkan 17 orang lainnya harus mengulang. Keberhasilan saya menjawab soal-soal ujian teori adalah karean saya sudah mempersiapkan diri saya dengan baik sebelum melakukan ujian ini. mulai dari belajar dari spanduk yang ada di bagian belakang ruang tunggu ujian teori hingga tentu saja mempelajari soal-soal ujian teori yang saya dapat dari internet. Saya sangat merekomendasikan situs http://indonesia-policewatch.com/adil/sim.php?action=simc bagi anda yang ingin mempelajari soal ujian teori pembuatan SIM C. Selain itu, Anda juga dapat mengunduh kumpulan soal ujian teori SIM yang ada di sini. Dua rujukan tersebut saya pikir sudah lebih dari cukup untuk Anda pelajari jika ingin berhasil melalui ujian teori dengan baik.
Setelah dinyatakan lulus, tahap selanjutnya adalah mengisi formulir permohonan SIM. sudah ada contoh yang diberikan untuk mengisi formulir tersebut sehingga mempermudah saya untuk mengisinya. Setelah terisi, formulir tersebut dikumpulkan di loket yang sudah disediakan. Kemudian saya diminta oleh petugas menuju loket Bank BRI untuk membayar biaya pembuatan alias PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) SIM C sebesar Rp100.000,- . Setelah membayar, saya dan peserta ujian yang lulus lainnya menuju ke ruang pemotretan untuk diambil pas foto, sidik jari, dan tanda tangan. Setelah selesai, saya menunggu sejenak proses pencetakan SIM C. Setelah SIM C selesai dicetak nama saya dipanggil untuk mengambil SIM C tesebut. Sayang seribu sayang, saat saya mengambil SIM C milik saya, terdapat biaya tambahan sebesar Rp30.000,- untuk biaya asuransi. Saya tahu, biaya asuransi ini tidak seharusnya ada. Saya sempat menanyakan kepada petugas yang meminta asuransi tersebut untuk apa asuransi ini. Tetapi dengan perangai yang bisa dikatakan sedikit memaksa, ia menjelaskan bahwa asuransi ini sebagai jaminan jika kita mengalami kecelakaan lalu lintas. Saya pun dengan sangat terpaksa mengikhlaskan uang Rp30.000 itu melayang. Saya sarankan bagi Anda yang akan membuat SIM C, sebisa mungkin jangan membayar biaya asuransi sebesarRp30.000 itu. Kemukakan saja segala macam alasan yang membuat kita bisa terhindar untuk membayar. Mungkin dengan mengatakan kepada petugas, “Wah, uang saya sudah habis, pak. Ini cuma sisa Rp10.000 di dompet. Itu pun juga buat beli bensin.” Anda bisa terhindar dari biaya tambahan yang tidak resmi itu. Ini penting mengingat saat ini kepolisian Republik Indonesia sedang mendapat sorotan tajam akan kasus korupsi simulator SIM yang sudah saya singgung sedikit di atas. Setelah jenderal mereka dinyatakan sebagai tersangka, seharusnya bersih-bersih Polri harus dilakukan dengan segera dan komprehensif termasuk membersihkan biaya gelap pembuatan SIM tadi. Jika kita tidak membayar uang tambahan tadi, itu sama saja kita membantu proses bersih-bersih yang dilakukan oleh Polri. Saya sebenarnya sudah cukup salut dengan kemajuan Polri belakangan ini dalam menghilangkan citra buruknya sebagai salah satu ‘lahan basah’. Ini tercermin dari proses pembuatan SIM yang walaupun belum 100% baik dan bersih, tetapi sudah bisa dikatakan lebih baik dan lebih bersih dibandingkan masa yang lalu. Jayalah selalu Kepolisian Republik Indonesia! J
Demikian pengalaman saya dalam membuat SIM C di Polres Bogor. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para netizen yang juga ingin membuat SIM C, khususnya bagi para waga Kabupaten Bogor. J